Hallo……., Namaku Reza Aditya, biasanya
sich aku dipanggil sama teman – temanku Adit. Ini adalah kisah cintaku yang
berawal dari persahabatanku.
Ceritaku ini berawal dari pada saat
ketika aku duduk di bangku SMA kelas 3. Aku mempunyai sahabat yang terdiri dari
6 orang anak. Ada 3 cowok dan 3 cewek. Diantaranya ada salah satu cewek yang
bernama Novi, dia adalah satu – satunya cewek yang paling dekat denganku.
Awalnya aku hanya beranggapan bahwa Novi
itu sahabat yang paling care sama aku, karena dia selalu menemaniku disaat ku
suka dan duka. Tetapi lama – kelamaan aku merasakan adanya rasa kepadanya yg
tak ku mengerti, dan pada saat dia nggak ada di sampingku ku merasa kesepian,
juga ketika dia bersama orang lain hatiku merasa marah sekali.
Tetapi aku merasa, bahwa aku tidak
pantas untuknya karena dia sahabat terbaikku. Tetapi aku bingungnya, kata teman
– teman dia sudah punya pacar.
Suatu ketika, dia berkata padaku,
“Adit, sebagai sahabat yang baik, aku
tidak akan pernah pergi menjauh darimu atau dari siapapun. Kecuali ada yang…….”
Tiba – tiba terputus karena dia segera
lari menuju kantin. Sebenarnya aku bingung, apa kelanjutan pembicaraannya itu.
Dan beberapa hari kemudian aku lihat Novi
berduaan dengan Ari (dia adalah sahabatku juga) , tapi yang lainnya (para
sahabatku yang lain) nggak ada! Apa yang terjadi ?
Aku bingung ditambah lagi hatiku marah
banget. Keesokan harinya Aku langsung menemui Ari tentang yang kemarin waktu
dia berduaan sama Novi.Dan aku berkata pada Ari,
“Rii ! Kamu kemaren sama Novi ngapain
aja. Kamu mau macarin Novi? Apa maksudmu ?! Jangan sampai ya persahabatan kita
rusak cuman gara – gara kamu pacaran sama Novi .”
“Kamu kenapa sich Adit? Aku tuch nggak
pacaran sama Novi! Kenapa kamu…….”
“Nggak! Aku sich nggak seperti yang kamu
bayangin!”
Setelah itu aku langsung bergegas lari
menjauhi Ari.
Seminggu telah berlalu, kecurigaanku
mulai terungkap, dan ternyata memang semua itu terjadi. Aku segera
menceritakannya pada sahabatku yang lain. Dan mereka semua setuju untuk tidak
akan menganggap Ari dan Novi sebagai mereka lagi.
Ternyata dibalik itu semua, Novi
mengakui bahwa dia sebenarnya tidak mencintai Ari. Hanya saja selama ini Novi
merasa diberi perhatian lebih oleh Ari. Ari melakukan itu semua karena Ari tau
kelemahan Novi itu dengan uang.
Novi menceritakan pengalaman pahitnya
itu kepadaku, karena aku yang lebih tahu keadaan hati Novi. Novi berkata
padaku,
“Aku hanya mencintai seseorang yang
jujur apa adanya.”
Tiba -tiba saja aku ingin berubah
menjadi seperti orang yang dicintai Novi, yang lebih dewasa. Aku benar – benar
bingung dengan sikapku terhadap Novi. Oh Tuhan, apa yang sedang aku alami ini?
Aku terus berdo’a sambil meminta
banrtuan Yang Maha Tahu untuk mengetahui rasa apa yang aku alami.
Beberapa hari kemudian, aku telah
menjadi orang yang lebih kekanak – kanakan seperti dulu. Sifat yang biasanya
aku mencoba untuk menjadi lebih dewasa, kini menjadi seseorang yang jujur apa
adanya seperti apa yang dikatakan Novi dulu.
Ari menyadari perubahanku ini. Dan dia
bertanya kepadaku,
“Adit, kamu cintakan sama Novi.”
“Nggak…”
“Jujur aja dech sama aku.”
“Aku bilang nggak, ya nggak.!!!”
“Sebenarnya, aku sudah tahu kok meskipun
kamu bilang nggak. Kamu suka kan sama Novi.?? Ngaku aja dech… Aku ini seseorang
yang telah menerima kemunafikanmu!”
“Ri ! Sebenarnya aku memang suka sama Novi!
Tetapi aku tidak ingin memilikinya, karena aku tahu kalau Novi mencintaimu dan
juga aku nggak ingin kalau persahabatan kita pecah karena gara – gara kita
memperebutkan Novi. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang baik dan juga
menyenangkan buat Novi.”
“OK! So kamu mau menjadi seorang sahabat
yang menjadi rasa cinta!”
Ari berbicara kepadaku sambil
mendorongku.
Kemudian, tiba – tiba Novi datang dan
langsung menolongku yang terjatuh karena aku nggak siap menerima dorongan dari Ari.Novi
langsung memarahi Ari,
“Ari, aku nggak suka kamu yang seperti
itu! Yang kasar!”
Kemudian Novi mengajakku ke UKS. Disitu Novi
berkata padaku,
“Adit, sorry ya sebelumnya. Kalau kamu
memang aku nggak bisa balas cintamu itu. Aku nggak suka sama orang yang kekanak
– kanakan.
Tapi disatu sisi aku juga suka sama kamu
yang orangnya apa adanya! Walau kamu kekanak – kanakan, aku hanya bisa
menganggapmu sebagai sahabat terbaikku saja, nggak lebih.”
Setelah Novi berkata begitu kepadaku dia
langsung lari keluar ruangan UKS.
Malampun tiba, malam itu aku ingin
sekali menelepon Shinta (dia juga sahabatku), tetapi nggak diangkat. Akhirnya
aku ke rumah Shinta.
Sesampainya disana, aku tak sengaja
mendengar pembicaraan antara Shinta dengan Novi. Ada apa ini?
Dan Novi berkata pada Shinta,
“Shin, sebenarnya aku tuch suka sama……Adit.
Tetapi nggak ada alasan untuk aku nggak mencintai Ari karena dia sudah ngasih
aku segalanya. Walaupun itu sebenarnya jerih payah bokapnya.
Tapi dia pernah menyelamatkan nyawaku!”
Tiba – tiba ia berhenti sejenak. Segera
aku masuk ke kamar Shinta.
“Liv, Ari sudah melakukan apa??”
“Adit, dia sudah menyelamatkan aku.”
“Nyelamatkan apa?”
“Kenapa sich! Kamu suka sama aku? Kamu
cinta sama aku?”
“Ha…Ha…Ha…Nggak mungkinlah Nov. Kalau
begitu aku pergi dulu ya…..”
Setelah itu, aku langsung meninggalkan
rumah Shinta.
Aku langsung menuju ke rumah Novi dan
mencurahkan isi hatiku kepada Dava(adik Novi).
“Gimana nich Va! Aku tuch sebenarnya
suka sama kakakmu, tetapi aku nggak mungkin bilang itu semua ke kakakmu!
Aku nggak mau persahabatanku Va!”
“Kalau begitu kakak nggak usah suka sama
kakakku ajah.”
“Ya nggak bisa begitu Va………”
Tiba – tiba Rani(dia juga sahabatku)
datang,
“Dava, Adit, kalian lagi ngapain?”
“Nggak Ran, aku lagi bicara tentang Game
sama Dava.”
“Nggak Kak Rani. Dia tadi bukan bicara
tentang Game, tetapi Kak Adit bicara kalau dia…….”
Aku langsung menutup mulut Dava, dan
membisiki Dava,
“Va, jangan bilang ke siapa – siapa.
Termasuk kakakmu juga ya.”
“Kalian bisik – bisik apaan sich. Aku
jadi curiga kalau ada apa – apa.”
“Nggak ada apa – apa kok Ran.”
“Pasti ini tentang Novi kan?”
“Nggak.”
“Ngaku aja dech!”
“Tapi jangan beri tahu ke yang lainnya
ya?”
“OK dech. Tapi sebenarnya ada apaan
sich?”
“Sebenarnya ya, aku akui kalau aku suka
sama Novi, tetapi kalau aku jadian sama Novi, terus persahabatan kita hancur
dong.”
“Kalau kamu suka sama Novi gak apa – apa
kok, kami nggak akan nggangguin kalian untuk pacaran. Dan persahabatan kita
nggak akan pernah hancur. Kami semua sudah tahu kalau kamu suka Novi, tetapi
kecuali Novi.”
“Yang bener…
Ku nggak yakin kalau Novi juga suka sama
aku.”
“Lho, kamu belum tahu ya kalau Novi tuch
suka sama kamu dari lubuk hatinya yang paling dalam.”
“Ha…….
Yang benar.!!”
“Iya. Dia bilang sendiri ke aku.”
“Ya sudah ya? Ku mau pulang dulu.
Makasih ya Ran.”
Keesokan harinya, pada saat istirahat
sekolah, aku ke kelasnya Novi. Tetapi aku nggak ke Novi, aku mau ke Kevin(dia
juga sahabatku). Dan aku berkata,
“Vin, kamu sudah tahu tentang aku sama Novi.”
“Sudah. Memangnya kenapa?”
“Kamu takut ungkapin perasaanmu ke Novi.”
“Iya. Vin, kamu mau bilangin perasaanku
ke Novi.”
“Tenang aja. Kamu kan sahabatku.”
“Makasih ya Vin.”
Setelah sepulang sekolah, aku menemui
Kevin sekali lagi,
“Vin, apakah kamu sudah bilang ke Novi?”
“Sudah”
“Terus dia jawab apa?”
“Sebenarnya sich dia mau jadi pacarmu,
tetapi dia takut kalau persahabatan kita berantakan. Lalu ku jawab, sebenarnya
kami semua sudah tahu kalau kalian berdua sama – sama suka.”
Tiba – Tiba Novi datang menghampiriku,
“Adit, Kevin, kalian berdua ngapain
disini.”
“Nggak apa – apa kok, hanya bicara
tentang…
Biasalah anak cowok. Sudah dulu ya, Adit,
Novi, aku pulang dulu.”
“OK”,jawab kami berdua.
Kemudian aku dan Novi ngomong bersama –
sama,
“Nov…”,
”Adit…”
“Nggak kamu duluan yang bicara!”
“Kamu dulu aja Adit!”
“Baiklah aku duluan. Nov, sebenarnya
waktu itu yang kita di rumahnya Shinta. Itu semuanya benar. Memang dari dulu
aku suka sama kamu, tapi hanya sekedar sahabat aja. Tetapi sekarang tidak,
rasanya setiap kamu gak ada didekatku, aku merasa kesepian. Terus setiap ketika
kamu bersama orang lain hatiku merasa marah sekali. Novi maukah kamu jadi
pacarku?”
“A…Ak….Akuu…”
Seluruh sahabatku Shinta, Ari, Rany, dan
Kevin berkata,
“YAA…….”
“Apa!!! Teman – teman!!!”
“Kau sebenarnya mau jawab iya kan. Ngaku
aja dech Nov!”
“Benar teman – teman.”
“Apa Nov? Kamu mau jadi pacarku???”
“Iya Adit?!?!?”
“Akhirnya kalian berdua jadian juga….”
“Hei Adit!”
“Ya teman – teman.”
“Ingat PJ’nya!!!!”
“Ah! Kalian bisa aja sich.”
“Kalau begitu hubungan kalian tidak kami
restui.”
“Baiklah besok sepulang sekolah.”
“Horeee…”
“Adit, sebaiknya kamu ajak tuch pacar
barumu jalan. Ya udah ya kami pulang duluan. Selamat jalan – jalan ya Adit, Novi.”
Setelah sahabatku pergi aku langsung
mengajak Novi jalan. Akhirnya impianku jadi kenyataan juga. Terima kasih Tuhan
telah mendengarkan do’aku.
Keesokan harinya, aku menjemput Novi.
Ternyata dia sudah berangkat duluan. Kemudian aku sambil berangkat ke sekolah
juga mencari Novi.
Dan ternyata hingga aku sampai di
sekolah aku tidak menemukan Novi.
Bel masuk telah berbunyi, aku tak tahu
apakah Novi sudah datang apa belum. Setelah bel istirahat berbunyi, aku
langsung ke kelasnya Novi. Dan aku menemui Kevin.
“Vin apakah Novi tadi masuk?”
“Nggak, dia tadi nggak kelihatan tuch
waktu pelajaran.”
“Ya sudah makasih.”
Aku merasa heran, dan juga perasaanku
tentang Novi. Apakah yang terjadi dengan Novi? Setelah pulang sekolah aku
mencari dimana Novi dan menelusuri semua jalan yang pernah aku lewati bersama Novi.
Ternyata dia tergeletak di pinggir jalan.
Kemudian aku membawanya ke Rumah Sakit
terdekat dan memberitahukan kepada orang tuanya bahwa Novi telah ditabrak lari.
Setelah orang tuanya datang. Mereka
menanngis, tetapi tangisan mereka tak seperti rasa sakitnya hatiku. Beberapa
hari telah berlalu, tetapi Novi masih belum siuman juga. Aku terus meminta
pertolongan kepada Tuhan, agar Novi cepat – cepat siuman.
Keesokan harinya, setelah aku pulang
sekolah, aku langsung pergi ke Rumah Sakit tempat Novi dirawat. Dia akhirnya
siuman juga dan berkata kepadaku,
“Le… Adit! Sebenarnya aku mencintaimu dengan
setulus hatinya dan dari lubuk hatiku yang paling dalam.”
Setelah orang tuanya kuhubungi kalau Novi
sudah siuman, dia langsung menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Aku merasa sangat sedih dan hatiku sakit
sekali. Dan aku berjanji tidak akan melupakan Novi untuk selamanya, dan juga
aku tidak akan pernah pacaran lagi, sebelum aku bisa menjaga seseorang yang aku
cintai.
~SELESAI~
By : Immas Adhityama Ghaffar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar