Rintik-rintik hujan yang mengguyur kota Solo membuat
suasana yang panas tampak mulai sejuk. Jalan-jalan yang penuh dengan debu
berterbangan kini mulai tampak bersih dari debu. Aku hanya berjalan menyusuri
trotoar bersama sahabatku di dekat Perempatan Solo Grand Mall. Ku lihat jam
tanganku menunjukkan pukul 12.30, lalu akhirnya kami berdua memasuki Mall SGM.
“Eh Adit??? Katanya kamu dulu pernah pacaran?? Kenapa sekarang gak cari
pacar lagi?” tanya Rizki sahabat dekatku.
“Gak ah Rizki. Aku lagi mau sendiri aja kok. Kenapa kamu tiba-tiba
ngomongin soal pacaran??” jawabku berbalik tanya padanya.
“Aku heran aja kamu kan dikampus disukai cewek-cewek?? Kan kamu tinggal
pilih yang mana yang cocok ma kamu...”
“Aku masih lum bisa melupakan cinta pertamaku waktu SMA pa Riz..”
“Lho kamu gak pernah cerita ma aku tentang kisah cintamu itu??” jawab Rizki
sambil makan chitato rasa keju kesukaannya.
“Ah kamu ini malah ngingetin masa laluku sih?? Jadi nonton bioskop gak
ini??” jengkelku lalu mengambil chitato rizki.
“Jadi dong..!!! Tapi kembaliin dulu dong chitatoku..!!!” rengek Rizki.
“Ambil aja kalau bisa” ejekku sambil lari-lari kecil menuju bioskop.
. . .
Kampus USM yang mulai padat dengan mahasiswa-mahasiswinya kini menjelma
menjadi lautan manusia. Aku melangkahkan kakiku menuju kampus bersama Rizki.
Sambil berjalan kaki tiba-tiba aku menangkap sosok yang sangat aku kenali.
Seseorang yang dulu pernah mengisi hatiku yang kosong ini. Perlahan-lahan sosok
itu tampak jelas dan kini mendekati aku. Lalu memanggil aku.
“Adit...Adit ternyata kamu disini juga ya??” sapanya padaku.
“Kamu Novi kan??” jawabku sambil mengeryitkan kening sembari mengingat.
“Iya aku Novi masa kamu lupa sih ma aku??”
“Nggak kok. Kamu di UMS ambil jurusan apa??”
“Aku ambil Pisikologi. Aku kok gak pernah lihat kamu padahal kita kan satu kampus??” tanyanya
dengan semangat.
“Oh aku dulu kan dikampus
1?? Sekarang kampusku kan pindah kesini jadinya aku juga ikut pindah..” jawabku.
“Oh gitu ya udah aku tak kuliah dulu. Kapan-kapan kita ketemuan ya Adit.
Aku kangen banget ma kamu” kata Novi.
“OK jangan kuatir”
Novi kini berjalan menjauhi aku dan Rizki yang masih terpaku melihatnya,
cewek cantik seperti bidadari yang meninggalkan kami.
. . .
Aku masih mengingat jelas apa yang tadi pagi terjadi. Aku bertemu lagi
dengan cinta pertamaku setelah hampir satu tahun aku tidak bertemu dengan Novi.
Dan kini aku tidak mau memikirkannya terus-menerus. Tapi bayangan Novi selalu
menghantui hatiku ini.
Senja kini mulai menghilang dari langit. Sang mentari tampak tersenyum di
ufuk barat pertanda akan kembali ke peraduannya. Burung-burung berterbangan
untuk kembali pulang ke sarangnya. Alunan lagu Tangga-Ajari Aku masih mengisi
kostku. Mengapa aku masih belum bisa melupakannya? Dan mengapa malah aku
bertemu dengan Novi lagi? Pertanyaaan-pertanyaan itu yang kini merasuk dalam
kalbuku.
Kini malam telah tiba. Ku coba untuk tidur, tapi aku belum bisa. Jam
menunjukkan 21.30 tapi aku masih saja mengingat kejadian tadi. Ku coba membuka
facebookku melalui netbook setelah hampir seminggu tak pernah ku buka. Ternyata
ada 1 permintaan teman dan ternyata adalah Novi. Novi dengan fotonya yang
cantik membuat aku jatuh cinta lagi padanya. Tiba-tiba pintu kamar kostku diketuk
oleh seseorang lalu aku buka dan ternyata Rizki.
“Rizki ngapain malam-malam ke kost??” tanyaku penasaran.
“Iya nich tadi aku habis ngerjain tugas
di rumahnya Irvana terus kok kemaleman ya akhirnya aku mampir ke kostmu
aja. Boleh kan aku nginep??” jelasnya.
“Nggak..nggak boleh” candaku.
“Ah kamu kok gitu sih Adit?? Jahat sih kamu??”
“Ya..ya boleh bercanda kok dimasukkan hati. Ya udah ayo masuk...!!!”
ajakku.
. . .
Cuaca pagi ini sangat cerah sekali. Mentari mulai tampak dan tersenyum
padaku. Alunan lagu IrDitsyah-Tentang Perasaanku terdengar jelas ditelingaku.
Pagi ini aku memutuskan untuk pulang dulu karena ada acara pernikahan kakakku.
Kalimat demi kalimat tak terasa hingga ujung lagupun berakhir. Akhirnya aku
sampai kota tercintaku di Kudus. Ku lihat kakakku sudah menjemput aku. Lalu dia
memanggilku.
“Adit...Adit... kakak disini???” jerit Kak Fian.
“Dah lama ya kak nunggunya?? Maaf tadi bisnya macet apa di sayung. Jadi
lama nunggunya??” kataku.
“Gak papa kok. Ya udah pasti kamu laper?? Yuk tak beliin makan. Tuh perutmu
dah bernyanyi-nyanyi...” canda kakakku.
“Wah Kak Fian kok tahu kalau aku dah laper banget?? Tadi gak sempet beli
makan pa di semarang” jawabku.
“Ya udah. Yuk berangkat sekarang...!!!”
“OK...!!!” jawabku dengan semangat.
Tiba-tiba saja terlintas bayangan Novi di hatiku. Mengapa aku masih
memikirkannya? Aku harus sadar kalau dia adalah masa laluku dan aku tidak boleh
mengingatnya lagi meski dia satu kampus lagi denganku. Kak Fian yang melihatku
melamun mencubit aku.
“Eh..(mencubit lenganku) Ngapain melamun?? Ada masalah??” tanyanya.
“Sakit kak...!!! Iya aku ada problem nich. Aku mau curhat, tapi nanti aja
dech...” jawabku.
“Sekarang aja kebetulan kakak lagi longgar nich waktunya”
“OK dech. Gini kak, kakak kan tahu Novi kan mantan pacarku dulu waktu
SMA??” kataku memulai cerita.
“Heem. Emangnya kenapa dengan Novi??”
“Dia satu kampus ma aku kak dan aku mulai jatuh cinta ma dia lagi. Tapi aku
gak mau hal itu terulang lagi. Karna aku tahu sekarang dia pasti sudah punya
pacar. Dan aku harus bisa melupakan kenangan bersamanya kak. Tapi hatiku ini
masih selalu memikirkan Novi terus. Karna dia cinta pertamaku. Apa kakak punya
cara untuk bisa melupakan Novi??” jelasku pada kak Fian.
“Oo gitu tho ceritanya?? Tapi cinta pertama itu sulit dilupakan Dit. Ya
coba aja isi hari-harimu dengan kegiatan yang positif supaya bayangan Novi itu
perlahan-lahan hilang dari hatimu? Kayaknya itu aja saran kakak”
“Gitu ya kak?? Akan aku coba dech kak. Makasih ya kak...!!!” gembiraku.
“Ya udah yuk pulang sekarang, udah ditunggu ibu dirumah” ajak kakakku.
. . .
Aku mencuci pakaianku dikost setelah aku pulang dari kampus. Tiba-tiba
bunyi hpku berdering dengan keras. Seperti orkestra yang mengalun-alunkan
lagu-lagu cinta. Segera aku berlari menuju kamar kostku. Ku lihat dilayar hpku
sebuah nomor asing tapi langsung kuangkat.
“Halo..!!! Maaf ini siapa ya?” kataku dengan sopan.
“Halo Adit masak kamu gak inget suaraku sih?” jawab seorang cewek yang
terdengar jelas di hpku.
“Beneran aku gak tahu siapa anda? Sekali lagi maaf anda siapa?” tanyaku
sekali lagi.
“Iya dech aku ngaku. Ini aku Novi, dah tahu kan siapa aku?”
“Oh Novi? Kok bisa tahu nomor aku dari siapa?” jawabku kaget tidak percaya.
“Dari sahabatmu Rizki. Kebetulan dia temanku di UKM Radio”
Seketika hatiku berdegup dengan kencang. Entah apa yang membuat hatiku
seperti ini. Tapi Novi menunggu jawaban dari aku.
“Adit...Adit kok diam kenapa kamu?” ujarnya.
“Ehm...gak kok. Ada apa Novi kok nelpon aku?” basa-basiku.
“Aku kangen banget ma kamu Adit. Oh ya kamu Sabtu ini pulang gak??” tanyanya
padaku.
“Ya pulang. Emangnya ada apa??”
“Aku bareng ya kebetulan aku gak ada teman bareng. Jadi aku bareng kamu
ya?? Boleh ya??” pintanya memelas.
“Ok..Ok...boleh dech kalau gitu. Novi, udahan dulu ya aku mau nerusin nyuci
baju nich”
“Ya tapi beneran ya aku bareng ma kamu pulangnya”
“Iya..iya tenang aja”
. . .
Hari yang kutunggu datang juga. Aku mencoba untuk tidak mengingat kembali
kenangan bersama dia, tapi apa daya hatiku tetap selalu memikirkan Novi. Bis
yang membawa kami menuju kota tercinta kami Daerah Istimewa Yogyakarta perlahan
melaju dengan pasti meninggalkan kota Solo. Di tengah perjalanan
tiba-tiba Novi berkata padaku.
“Adit, aku boleh ngomong hal pribadi gak ma kamu??” tanyanya padaku.
“Ehm...bolehlah mangnya mo tanya apaan sich kok kayaknya serius banget??”
jawabku penasaran.
“Semenjak putus denganku kamu pasti udah punya pacar kan??”
“Lum kok aku konsen ma kuliah aja kok. Lum punya pacar. Emangnya ada apa??”
“Aku kok nyaman berada disisimu Dit. Semenjak putus dari kamu aku merasa
kesepian dan aku gak bisa melupakanmu. Sebenarnya aku dulu putus ma kamu karena
aku gak boleh pacaran denganmu ma ortuku. Tapi aku sebenarnya masih cinta
padamu Adit” jelas Novi memelas padaku.
Betapa kagetnya aku mendengar ucapan Novi. Dia masih mencintaiku?? Tuhan
aku ingin melupakan kenangan bersamanya. Aku gak mungkin bisa mencintainya
lagi. Tuhan tolonglah diriku ini...
Tiba-tiba badanku digoyang-goyangkan Novi. Ternyata dia menunggu jawaban
yang terucap dari bibirku ini.
“Adit...kok diam aku nunggu jawabanmu. Gimana apakah kamu mau CLBK lagi ma
aku??” ucapnya lagi.
“Gimana ya aku lum bisa mastiin Novi...” jawabku sekenanya.
“Tolonglah Adit aku benar-benar mencintaimu...” desak Novi memelas padaku.
Aku berhenti sejenak untuk memutuskan apa yang harus aku ucapkan pada Novi.
“Novi, baiklah aku beri kamu kesempatan sekali lagi. Tapi kamu harus janji
untuk tidak mempermainkan aku lagi” jelasku.
“Beneran Adit?? Makasih banyak ya. Aku janji dech nggak bakalan lagi menyia-nyiakan
kamu sayang...” gembiranya padaku.
Oh Tuhan mengapa aku begitu cepat mengambil keputusan untuk menerima
kembali Novi?? Tapi bagaimanapun juga aku masih mencintainya.
. . .
Hari-hariku kini berbunga layaknya bunga-bunga yang bermekaran di taman bersama
Novi. Aku mencintai dan menyayangi Novi. Tapi itu hanya hanya bertahan selama
satu bulan saja. Novi kini tidak pernah sms ataupun nelpon aku. Aku yang merasa
curiga langsung menanyakan pada Novi langsung.
“Novi, minggu-minggu ini kamu tak sms dan tak telpon kok gak kamu balas
atau kamu angkat??” tanyaku.
“Oh sorry Adit, itu apa aku dapat tawaran untuk jadi penyiar di Radio jadi
maaf banget kalau gak tak balas atau kuangkat telponmu” jawabnya penuh
keyakinan padaku.
“Oh gitu ya. Ya udah aku percaya sama kamu. Eh, kamu hari sabtu ini ada
acara gak??”
“Waduh maaf banget Adit. Aku ada janji ma teman penelitian di radio
Imelda??”
“OK dech. Tapi sms atau nelpon aku ya kalau ada apa-apa” cemasku
“Iya tenang aja dech sayang. Ya udah aku tak kuliah dulu ya??”
Novi meninggalkan aku yang terpaku dengan rasa curiga padanya. Apa yang
sebenarnya terjadi Novi?? Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu merasuk dalam
benakku dan mendesak-desakkaha aku.
. . .
Hari sabtu akhirnya aku mengajak Rizki pergi ke Hartono Mall. Pameran komputer yang menawarkan berbagai kebutuhan kompter
membuat aku kegirangan untuk membeli semuanya.
“Adit, kamu jadi beli modem gak?? Mumpung di pameran nich harganya murah
lho?? Saran Rizki padaku.
“Iya jadi lah. Aku tak lihat-lihat dulu mana yang koneksinya cepat”
jawabku.
Tiba-tiba Rizki memanggil-manggil aku...
“Adit...Adit sini bentar...!!!” seru Rizki memanggilku.
“Ada apa sih?? Aku lagi lihat-lihat modem malah kam panggil??” gersahku.
“Lihat (menunjuk sepasang kekasih yang sedang bergandengan) itu Novi kan??”
kata Rizki.
“Mana sih??” jawabku gak percaya.
“Itu yang pake kaos putih. Kelihatannya dia sama cowok lain tapi siapa
ya??”
Kuamati sengan jelas sosok cewek tadi. Dan benar apa yang dikatakan Rizki
itu Novi yang sedang bergandengan dengan cowok lain. Betapa marahnya aku saat
itu. Tapi Rizki menghalau langkahku.
“Adit, jangan bertindak bodoh kamu. Biarkan aja dulu. Kamu harus mastiin
dulu siapa cowok yang bersama Novi. Jangan kesana...!!!”
“Baiklah Rizki bila itu keputusanmu. Ya udah yuk pulang aku udah dapat
modemnya” jawabku dengan muka kesal.
. . .
Semenjak kulihat Novi bersama cowok lain bergandengan, Novi tidak pernah sedikitpun
untuk menanyakan kabarku. Ku coba untuk sms nggak pernah sampai pesanku. Ku
coba telpon nomornya tidak aktif Ia terlalu lengah dengan kegiatannya hingga
rasa cintanya padaku kini mulai perlahan memudar. Hari sabtu ini kuputuskan
untuk pulang kampung ke Yogyakarta setelah Bab II skripsiku disetujui oleh dosen pembimbingku. Ditengah
perjalanan menuju Yogyakarta aku sempatkan untuk sejenak istirahat di alun-alun Demak. Ku parkirkan
motorku disamping warung Gudeg makanan khas kota wali itu. Sejenak setelah aku memesan bakso dan es teh
suara hpku Ungu-Cinta Dalam Hati berderig kencang. Ku rogoh saku kemejaku lalu
kuangkat telpon itu.
“Halo...!!!” suara genit seorang perempuan yang tak tahu namanya.
“Ya halo... ini dengan siapa ya??” jawabku biasa.
“Ini aku Novi. Sorry banget ya sayang selama dua minggu ini aku nggak kasih
kamu kabar. Aku banyak kerjaan dan skripsi apa jadi lum sempat ngabari kamu??”
jelasnya berentet-entet mencoba menyakinkannku.
“Iya gak apa-apa aku ngerti kok kamu kan super sibuk. Tapi ngapain kamu
ganti nomor segala? Nomormu yang dulu??”
“Ehm...(diam sejenak) aku cuman pengin ganti nomor aja. Bosen pakai omor
yang dulu?? Eh gimana kabarmu sayang?? Aku kangen banget ma kamu??” puja Novi
padaku.
“Baik kok. Lagi sibuk skripsi aja??”
“Kamu kok cuman gitu jawabnya sayang?? Ada apa sih denganmu??” tanyanya.
“Nggak aku gak kenapa-kenapa kok. Ya udah aku mau jalan lagi”
“Tapi sayang bentar (...)” katanya yang terpotong karena aku tutup
telponnya.
. . .
Rizki mengajak aku untuk pergi menemaninya penelitian skripsinya disuatu
perusahaan di Yogyakarta. Ia memutuskan untuk mengambil penelitiannya di Yogyakarta karena kebetulan pakdhenya bekerja sebagai Kepala Bagian Administrasi di
perusahaan itu. Setelah kurang lebih dua jam Rizki melakukan penelitiannya, ia
mengajakku ke Matahari. Sampai disana tiba-tiba hatiku berdegap dengan kencang sekali. Apa yang
akan terjadi Tuhan??
“Adit...sini yuk tak traktir makan di KFC??” ajak Rizki padaku.
“Tapi...pulang aja yuk?? Makan dirumahku aja??” saranku menerangkan.
“Ah... gak papa Dit. Kamu kan sering traktir aku?? Gantian sekarang aku
yang traktir kamu?? Ayo...!!!” kesalnya sambil menarik tangaku dengan kuat.
Akhirnya kami memasuki KFC. Sekejap kutangkap sesosok cewek yang
keliahatnnya aku kenal. Dan apa yang terjadi kini menjadi nyata. Ku lihat Novi
bersama cowok lain. Betapa sakitnya hati aku melihat hal yang paling aku tidak
suka. Segera aku hampiri Novi..
“Novi??” kataku.
“Eh..Adit. Ehm..ehm.. kok kamu bisa ada disini??” bingung Novi mencari
jawaban.
“Ya aku bisa disini karena hatiku mengatakan kalau ada sesuatu denganmu.
Dan sesuatunya adalah begini??” kataku rada tinggi.
Tanpa kusangka lagi cowok tadi menyalami aku dan memperkenalkan diri.
“Mas..kenalin (mengulurkan tangan padaku) Saya Dani tunangan
Novi”
“Oh iya saya Adit mantan pacar Novi” jawabku rada kasar.
Sesudah itu aku meninggalkan mereka. Ku tarik tagan Rizki untuk segera
pergi dari tempat yang membuat hatiku hancur berkeping-keping
. . .
Kini sejuta kata rindu yang akan kau katakan kepada Novi pupus sudah. Pagi
yang biasanya aku lalui bersama Novi kini telah hilang dalam kegelapan hati
Semenjak itu aku masih belum bisa melupakan kenangan indah bersamanya. Jujur
aku memang tak bisa melupakan dirinya yang pernah singgah dihatiku. Tapi aku
harus bisa melupakannya.
Aku hanya bisa berkata pada bayangan Novi “Ajari aku melupakanmu” hanya itu
yang bisa aku ucapkan pada bayangannya. Biarkan sekarang diriku terluka olehnya
tapi perlahan-lahan aku harus bisa melupakannya. Novi, ajari aku melupakanmu...
THE END
By : Immas Adhityama G
Tidak ada komentar:
Posting Komentar